Friday, October 14, 2011

Pemesanan ORI Seri 008 Memasuki Hari ke-5 Rp 8,4 Triliun

Jumat, 14 Oktober 2011 11:35 WIB

Pemesanan obligasi ritel Indonesia (ORI) seri 008 memasuki hari ke-5, dengan total penjualan sudah mencapai Rp 8,4 triliun. Para agen penjual pun meminta tambahan jatah.

"Jumlah pemesanan sudah mencapai Rp 8,4 triliun, dengan 11.996 investor," jelas Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto, Jumat (13/10/2011).

Dikatakan Rahmat, sejak hari kedua pemesanan sudah ada 2 agen penjual yang meminta tambahan jatah penjualan ORI008 ini. Namun menurut Rahmat, kemungkinan tidak semua permintaan penambahan jatah bakal dipenuhi pemerintah.

"Kemungkinan tidak semua permintaan tambahan quota atau jatah dari agen penjual dapat sepenuhnya dipenuhi oleh pemerintah. Minat investor luar biasa," kata Rahmat.

Pemerintah sebelumnya sudah menawarkan ORI hingga ORI007, yang dananya digunakan untuk pembangunan. ORI008 menawarkan kupon atau bunga sebesar 7,3% lebih tinggi dari rata-rata deposito dan pajaknya hanya 15%, lebih kecil dibanding deposito yang pajaknya 20%.

Keuntungan lain dari ORI ini, lanjut Rahmat adalah bisa dibeli maksimal Rp 3 miliar dan semuanya dijamin penuh oleh negara. Berbeda dengan simpanan deposito yang penjaminannya hanya untuk dana maksimal Rp 2 miliar.

ORI008 mulai ditawarkan sejak 7 Oktober hingga 21 Oktober 2011. Kemenkeu sebelumnya telah menunjuk 25 agen penjual yakni:



Bank UOB Indonesia

Citibank, N.A

PT ANZ Bank Panin

PT Bank Bukopin Tbk

PT Bank Central Asia Tbk

PT Bank CIMB Niaga Tbk

PT Bank Danamon Indonesia Tbk

PT Bank Internasional Indonesia Tbk

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk

PT Bank Mega Tbk

PT Bank Negara Indonesia Tbk

PT Bank OCBC NISP Tbk

PT Bank Panin Tbk

PT Bank Permata Tbk

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk

PT Ciptadana Securities

PT Danareksa Sekuritas

PT Kresna Graha Securindo

PT Lautandhana Securindo

PT Mega Capital Indonesia

PT Reliance Securities Tbk

PT Sucorinvest Central Gani

PT Trimegah Securities Tbk

Standard Chartered Bank

The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Ltd.



Lihat Analisis Vibiz Research

No comments: