Rabu, 23 November 2011 18:00 WIB
(Vibiznews-Bonds&Mutual) Harga obligasi rupiah turun lebih dari 1 poin untuk obligasi jangka menengah dan jangka panjang, yield curve bergeser lebih tinggi secara pararel 16 – 18 bps. Konsen atas berlanjutnya kirisis hutang Eropa yang menjadi penyebab utama melemahnya harga obligasi, terpicu dari unwinding oleh investor asing. BI tidak melakukan intervensi langsung di pasar sekunder namun lebih memilih untuk melakukan transaksi bilateral dengan bank untuk menyerap penjualan oleh asing.
Yield indikatif:
1 tahun SPN 4.70%
3 tahun FR26 5.37%
5 tahun FR55 5.69%
10 tahun FR53 6.48%
15 tahun FR56 7.00%
20 tahun FR54 7.48%
Kita menghadapi pasar obligasi global yang sangat lemah hari ini karena memanasnya konsen atas hutang Eropa dan memburuknya data yang keluar dari Amerika, yang mendorong saham lebih rendah dan meningkatkan risk-off environment. Likuiditas tetap tipis, yang menyebabkan harga lebih bergejolak. Indon 21 diperdagangkan menurun,harga dalam kisaran 104.375, 104.00 dan 103.875 (T=255 bps atau 16 bps lebih lebar dari kemarin). Indois 18 diperdagangkan menurun dengan harga 99.00. PLN21 diperdagangkan menurun dengan harga 98.50. Indon 21 saat penutupan dalam kisaran harga 103.75/104.375 (-62.5 sen), Indois 18 dalam kisaran 98.875/99.25 (-37.5 sen), dan PLNIJ 21 dalam kisaran 98.00/98.75 (-125 sen). Indo CDS tenor 5 tahun dalam kisaran 247/252 (+ 15 bps)
Yield indikatif beli/jual:
Indon 14o 3.09% / 2.66%
Indon 15 3.25% / 2.96%
Indon 20 4.32% / 4.18%
Indon 21 4.35% / 4.29%
Indon 35 5.35% / 5.23%
Indon 38 5.40% / 5.28%
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment